Categories
Parenting

Mr. P Tak Berdaya? Coba Atasi Dengan “Esst”

Papa, coba cermati tanda- tanda berikut ini saat berhubungan intim dengan Mama! Apakah Mr. P membesar, tetapi tidak keras? Apakah Mr. P mengeras, tetapi tidak cukup kuat untuk melakukan penetrasi? Atau, apakah Mr. P cukup kuat dan bisa dilakukan penetrasi, tetapi tidak cukup kuat untuk “beraksi”?

Baca juga : Kerja di Jerman

Bila Papa mengalami salah satu saja dari gejala tersebut, baiknya segera konsultasikan ke dokter demi mendapatkan penanganan tepat. Sebab, bisa jadi Papa terkena DE alias disfungsi ereksi. Apalagi jika Papa memiliki penyakit diabetes melitus (DM). Diabetes melitus adalah penyakit yang diakibatkan tingginya kadar gula (glukosa) dalam darah secara terus menerus karena tubuh kekurangan ataupun resisten terhadap hormon insulin.

Padahal insulinlah yang bertugas mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Kadar gula yang tinggi bisa merusak saraf sehingga menghambat suplai darah ke Mr. P yang mengakibatkan ereksi tidak sempurna atau gagal. Mengapa perlu dipertimbangkan kemungkinan diabetes melitus ini? Karena saat ini, usia pengidap diabetes semakin muda, kasusnya kerap ditemukan pada lelaki di usia kurang dari 40 tahun. Tentu, bukan cuma diabetes melitus yang mungkin menjadi penyebab DE.

Masih ada kemungkinan lainnya, seperti: kurangnya produksi hormon testosteron; terlalu banyak tekanan ke saraf penis karena bersepeda terlalu lama; tekanan psikologis yang berat; operasi di sekitar penis sehingga ada saraf yang rusak; kecanduan alkohol dan rokok; terapi obat yang cukup panjang; cedera sumsum tulang belakang, atau lainnya. Apa pun penyebabnya, yang jelas, DE harus segera ditangani demi kualitas hidup Papa dan Mama yang jauh lebih baik.

TERAPI GELOMBANG SUARA Banyak teknik pengobatan untuk mengatasi DE. Ada terapi pengobatan dengan minum obat (oral), suntik, pijaturut, dan sebagainya. Masing-masing jenis pengobatan memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Obat oral, misalnya, jika tak dilakukan hati-hati bisa berefek negatif pada jantung atau ginjal, sementara suntik bisa merusak jaringan. Pijat-urut pun tidak cukup efektif. Efeknya hanya terjadi pada saat pasien diberi obat atau urut, setelah itu balik lagi. Namun, jangan khawatir. Saat ini ada jenis pengobatan DE terbaru yang lebih efektif, namanya Extracorporeal Shock Waves for Sexual Therapy (ESST).

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *