Categories
Berita

Retrospeksi Sardono W. Kusumo Bag5

Gaji saya 250 dolar. Makanya saya sanggup beli kamera,” ucap lelaki yang rambutnya tetap gondrong ini. Kamera itulah yang kemudian dibawanya ke mana-mana ke pelosok Nusantara. Menurut Sardono, rol-rol pita hasil rekamannya kemudian disimpan begitu saja di rumah tanpa perawatan khusus. Ia takut rol-rol itu rusak. ”Direktur Festival Singapore International Festival of Arts Ong Keng Sen tertarik pada dokumentasi saya.

Dan, atas biayanya, didigitalisasi dan direstorasi di Australia,” kata Sardono. Memang kondisi pita-pita itu sebagian kurang bagus. Tatkala Tempo tahun lalu turut menyaksikan Sardono di Institut Kesenian Jakarta mencoba memasang rol 8 mm itu di proyektor, beberapa pitanya langsung putus. ”Yang paling parah kondisinya adalah dokumentasi tahun 1968,” ujar Ari Dina Krestiawan, yang membantu Sardono mengurus proses digitalisasi ke Australia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *